Showing posts with label belajar psikologi. Show all posts
Showing posts with label belajar psikologi. Show all posts

Sunday, January 13, 2013

Perilaku Abnormal pada Anak dan Remaja



1.      DEFINISI GANGGUAN
Masalah masalah psikologis yang dialami pada masa kanak – kanak dan remaja merujuk pada usia dan kebudayaan. Dimana perilaku yang dianggap normal pada anak –anak bisa saja tidak normal pada orang dewasa, contohnya malu dan takut pada sesuatu hal. Takut terhadap tempat gelap akan dirasa wajar bila itu yang mengalami pada anak anak namun akan tidak wajar bila itu yang mengalami seseorang yang telah dewasa. Keyakinan keyakinan budaya membantu menentukan apakah orang – orang melihat perilaku tertentu sebagai normal atau abnormal. Orang – orang yang hanya mendasarkan pada normalitas pada standart yang berlaku pada budaya mereka saja akan beresiko menjadi etnocentris ketika mereka memandang tingkah laku orang lain dalam budaya yang berbeda sebagai abnormal. Perilaku abnormal pada anak – anak bergantung pada definisi orang tua mereka yang dipandang dari kacamata budaya tertentu.
Gangguan perkembangan pada masa perkembangan anak dan remaja dapat didefinisikan sebagai

2.      KLASIFIKASI GANGGUAN
a.         Gangguan Perkembangan Pervasif
Ditandai dengan masalah awal pada tiga area perkembangan utama: perilaku, interaksi sosial, dan komunikasi.
Gangguan ini terdiri dari :
·           Autisme
Adalah kecenderungan untuk memandang diri sendiri sebagai pusat dari dunia, percaya bahwa kejadian – kejadian eksternal mengacu pada diri sendiri. Dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas (Johnson, 1997). Gejala-gejalanya meliputi kurangnya respon terhadap orang lain, menarik diri dari hubungan sosial, dan respon yang aneh terhadap lingkungan seperti mengepakkan tangan, bergoyang-goyang, dan memukul-mukulkan kepala.
·           Reterdasi Mental
Muncul sebelum usia 18 tahun dan dicirikan dengan keterbatasan fungsi intelektual secara signifikan berada dibawah rata-rata (mis., IQ dibawah 70) dan keterbatasan terkait dalam dua bidang keterampilan adaptasi atau lebih (mis., komunikasi, perawatan diri, aktivitas hidup sehari-hari, keterampilan sosial, fungsi dalam masyarakat, pengarahan diri, kesehatan dan keselamatan, fungsi akademis, dan bekerja.
·           Gangguan perkembangan spesifik
Dicirikan dengan keterlambatan perkembangan yang mengarah pada kerusakan fungsional pada bidang-bidang dan mempengaruhi tahap perkembangan selanjutnya, seperti :
Ø  Gangguan belajar, ditandai dengan :
ü   Gangguan menulis
Keterbatasan kemampuan menulis sehingga muncul dalam bentuk kesalahan memgeja, kesulitan membentuk kalimat. Muncul pada usia 7 tahun
ü   Gangguan membaca
Keterbatasan kemampuan dalam mengenali dan memahami rangakaian kata –kata. Biasanya tampak pada usia 7 tahun
ü   Gangguan matematika
Keterbatasan kemampuan anak dalam memahami istilah  matematika.
Ø  Gangguan Komunikasi, ditandai dengan :
ü   Gangguan bahasa ekspresif
Keterbatasan  dalam menggunakan bahasa verbal
ü   Gangguan bahasa campuran reseptif atau ekspresif
Keterbatasan anak dalam memahami maupun memproduksi bahasa verbal
ü   Gangguan fonologis
Kesulitan dalam artikulasi suara tanpa adanya kerusakan pada mekanisme berbicara
ü   Gagap
Ganggauan pada kemampuan berbicara lancer dengan waktu yang tepat
b.        Defisit perhatian dan gangguan perilaku disruptif
·           ADHD ( Atttention deficit hyperactivity disorder)
Dicirikan dengan tingkat gangguan perhatian yang rendah,(sulit berkonsentrasi) impulsivitas, dan hiperaktivitas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan. Menurut DSM IV, ADHD pasti terjadi di sedikitnya dua tempat (mis., di sekolah dan di rumah) dan terjadi sebelum usia 7 tahun (DSM IV, 1994).
·           Conduct Disorder (CD )
Adalah munculnya cara pikir dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah yang disebabkan sejak kecil orangtua tidak mengajarkan perilaku benar dan salah pada anak. Ciri - cirinya, apabila ia memunculkan perikau anti sosial baik secara verbal maupun secara non verbal seperti melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya, menunjukkan unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.
·           Oppositional defiant disorder ( ODD )
Perilaku dalam gangguan ini menunjukkan sikap menentang, seperti berargumentasi, kasar, marah, toleransi yang rendah terhadap frustasi, dan menggunakan minuman keras, zat terlarang, atau keduanya. Namun dalam gangguan ini tidak melanggar hak-hak orang lain sampai tingkat yang terlihat dalam gangguan perilaku.
c.         Kecemasan dan Depresi
Gangguan kecemasan sering terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut ke masa dewasa biasanya berupa : gangguan obsesif kompulsif, gangguan kecemasan umum, dan fobia banyak terjadi pada anak-anak dan remaja, yang memiliki gejala seperti pada orang dewasa. Gangguan kecemasan akibat perpisahan adalah gangguan masa kanak-kanak yang ditandai dengan rasa takut berpisah dari orang yang paling dekat dengannya seperti orang tua, saudara,dll. Gejalanya antara lain berupa mimpi buruk, sakit perut, mual dan muntah saat mengantisipasi perpisahan.gangguan kecemasan ini dapat berlanjut hingga depresi.  Depresi pada anak – anak dan remaja tidaklah berbeda dengan orang dewasa, mereka memiliki perasaan tidak berdaya,kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri. Namun  depresi pada anak tidak nampak nyata bila dibanding dengan orang dewasa. Ciri – ciri depresi pada anak antara lain adalah mereka menolak untuk masuk sekolah, tak mau pisah dengan orang tua. Depresi pada anak dan remaja biasanya diikuti dengan gangguan lain seperti CD, ODD, masalah akademik. Depresi pada remaja yang berkelanjutan akat berakibat ganguan depresi yang lebih serius pada masa dewasa. 
d.        Gangguan Eliminisi
Adalah gangguan pada perkembangan anak dan remaja dimana tidak dapat mengontrol buang air kecil ( BAK ) dan buang air besar ( BAB ) setelah mencapai usia normal untuk mampu melakukannya. Terbagi menjadi dua yaitu:
·           Enuresis
Adalah dimana anak tidak mampu mengontrol BAKnya bukan karena akibat dari kerusakan neurologis atau penyakit lainnya . kita sering menyebutnya dangan mengompol.
·           Enkopresis
Ketidakmampuan mengontrol BABnya yang bukan disebabkan masalah organik.
3.      PENYEBAB GANGGUAN
Belum ada penyebab tunggal pada gangguan perkembangan anak dan remaja. Berbagai situasi, termasuk faktor psikobiologik, dinamika keluarga, dan faktor lingkungan berkombinasi secara kompleks yang menjadi penyebab gangguan perkembangan anak dan remaja.

1. Faktor-faktor psikobiologik.
Faktor-faktor psikobilogik biasanya akibat :
·           Riwayat genetika keluarga yang terjadi pada kasus retardasi mental, autisme, skizofrenia kanak-kanak, gangguan perilaku, gangguan bipolar, dan gangguan ansietas atau kecemasan.
·           Struktur otak yang tidak normal. Penelitian menemukan adanya abnormalitas struktur otak dan perubahan neurotransmitter pada pasien yang menderita autisme, skizofrenia kanak-kanak, dan ADHD.
·           Pengaruh pranatal, seperti infeksi pada saat di kandungan ibu, kurangnya perawatan pada masa bayi dalam kandungan, dan ibu yang menyalahgunakan zat, semuanya dapat menyebabkan perkembangan saraf yang abnormal yang  berkaitan dengan gangguan jiwa. Trauma kelahiran yang berhubungan dengan berkurangnya suplai oksigen pada janin saat dalam kandungan yang sangat signifikan dan menyebabkan terjadinya retardasi mental dan gangguan perkembangan saraf lainnya.
·           Penyakit kronis atau kecacatan dapat menyebabkan kesulitan koping bagi anak.
2. Dinamika keluarga.
Dinamika keluarga yang tidak sehat dapat mengakibatkan perilaku menyimpang yang dapat digambarkan sebagai berikut :
·         Penganiayaan anak. Anak yang terus-menerus dianiaya pada masa kanak-kanak awal, perkembangan otaknya menjadi terhambat (terutama otak kiri). Penganiayaan dan efeknya pada perkembangan otak berkaitan dengan berbagai masalah psikologis, seperti depresi, masalah memori, kesulitan belajar, impulsivitas, dan kesulitan dalam membina hubungan (Glod, 1998).
·         Disfungsi sistem keluarga (misal kurangnya sifat pengasuhan orang tua pada anak, komunikasi yang buruk) disertai dengan keterampilan koping yang tidak baik antaranggota keluarga dan model peran yang buruk dari orang tua. Sehingga menyebabkan gangguan pada perkembangan anak dan remaja.
3. Faktor lingkungan.
Lingkungan dan kehidupan sosial yang tidak menguntungkan akan menjadi penyebab utama pula, seperti :
·         Kemiskinan.
Perawatan pranatal yang buruk, nutrisi yang buruk, dan kurang terpenuhinya kebutuhan akibat pendapatan yang tidak mencukupi dapat memberi pengaruh buruk pada pertumbuhan dan perkembangan normal anak.
·         Tunawisma.
Anak-anak tunawisma memiliki berbagai kebutuhan kesehatan yang memengaruhi perkembangan emosi dan psikologi mereka. Berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan angka penyakit ringan kanak-kanak, keterlambatan perkembangan dan masalah psikologis diantara anak tunawisma ini bila dibandingkan dengan sampel kontrol (Townsend, 1999).
·         Budaya keluarga.
Perilaku orang tua yang secara dramatis berbeda dengan budaya sekitar dapat mengakibatkan kurang diterimanya anak-anak oleh teman sebaya dan masalah psikologik.
4.      PENANGANAN
Beberapa terapi atau perawatan gangguan perkembangan anak dan remaja antara lain:
a)         Perawatan berbasis komunitas saat ini lebih banyak terdapat pada managed care.
Yaitu dengan cara-cara yaitu :
·       Pencegahan primer melalui berbagai program sosial yang ditujukan untuk menciptakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan anak. Contohnya adalah perawatan pranatal awal, program penanganan dini bagi orang tua dengan faktor resiko yang sudah diketahui dalam membesarkan anak, dan mengidentifikasi anak-anak yang berisiko untuk memberikan dukungan dan pendidikan kepada orang tua dari anak-anak ini.
·       Pencegahan sekunder dengan menemukan kasus secara dini pada anak-anak yang mengalami kesulitan di sekolah sehingga tindakan yang tepat dapat segera dilakukan. Metodenya meliputi konseling individu dengan program bimbingan sekolah dan rujukan kesehatan jiwa komunitas, layanan intervensi krisis bagi keluarga yang mengalami situasi traumatik, konseling kelompok di sekolah, dan konseling teman sebaya.
·       Dukungan terapeutik bagi anak-anak diberikan melalui psikoterapi individu, terapi bermain, dan program pendidikan khusus untuk anak-anak yang tidak mampu berpartisipasi dalam sistem sekolah yang normal. Metode pengobatan perilaku pada umumnya digunakan untuk membantu anak dalam mengembangkan metode koping.
·       Terapi keluarga dan penyuluhan keluarga. Penting untuk membantu keluarga mendapatkan keterampilan dan bantuan yang diperlukan guna membuat perubahan yang dapat meningkatkan fungsi dari semua anggota keluarga.
b)        Pengobatan berbasis rumah sakit dan Rehabilitasi.
·       Unit khusus untuk mengobati anak-anak dan remaja, terdapat di rumah sakit jiwa. Pengobatan di unit-unit ini biasanya diberikan untuk klien yang tidak sembuh dengan metode alternatif, atau bagi klien yang beresiko tinggi melakukan kekerasan terhadap dirinya sendiri ataupun orang lain.
·       Program hospitalisasi parsial juga tersedia, memberikan program sekolah di tempat (on-site) yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan khusus anak yang menderita penyakit jiwa. Seklusi dan restrein untuk mengendalikan perilaku disruptif masi menjadi kontroversi. Penelitian menunjukkan bahwa metode ini dapat bersifat traumatik pada anak-anak dan tidak efektif untuk pembelajaran respon adaptif. Tindakan yang kurang restriktif meliputi istirahat (time-out), penahanan terapeutik, menghindari adu kekuatan, dan intervensi dini untuk mencegah memburuknya perilaku.
c)         Farmakoterapi.
Medikasi digunakan sebagai satu metode pengobatan. Medikasi psikotropik digunakan dengan hati-hati pada klien anak-anak dan remaja karena memiliki efek samping yang beragam. Pemberian metode ini berdasarkan :
a. Perbedaan fisiologi anak-anak dan remaja mempengaruhi jumlah dosis, respon klinis, dan efek samping dari medikasi psikotropik. 
b. Perbedaan perkembangan neurotransmiter pada anak-anak dapat mempengaruhi hasil pengobatan psikotropik, mengakibatkan hasil yang tidak konsisten, terutama dengan antidepresan trisiklik.

Saturday, January 12, 2013

Gangguan identitas gender, parafilia, dan disfungsi seksual

Gangguan Identitas Gender

  • gangguan mengenai seseorang merasa ia itu pria atau wanita
  • dapat berakibat adanya transgender dan transeksual
  • ketidakhadiran sosok ayah atau ibu menjadi salah satu penyebabnya

Parafilia

  • perilaku abnormal ada pemuasan seksual
  • Tipe-tipe:
  1. Ekshibisionisme (menunjukan alat genital dimuka umum)
  2. Voyeurisme (ngintip)\
  3. Masokisme seksual (kepuasan dari pemberian rasa sakit pada pasangan,serta mengurangi kadar Oksigen pasangan dengan menutup kepalanya memakai plastik)
  4. Fethisisme (objek bukan manusia, seperti pakaian)
  5. Froterisme (menabrakan diri pada orang lain tanpa izin)
  6. Sadisme seksual (kekerasan seperti pemerkosaan)
  7. Fethisisme transvestik (menggunakan pakaian pasangan)
  8. Pedofilia (suka pada anak2)
  • Penyebab:
  1. Dari perspektif teori belajar --> pengalaman menjadi hal penting
  2. dari Psikodinamika --> pengalaman anak-anak yang akan sampai masa dewasa
  3. Perspektif Multi Faktor --> penganiayaan seksual semasa anak-anak menjadikannya trauma psikis
  • Penanganan:
  1. Terapi Biomedis
antidepresan akan membantu individu mengontrol dorongan seksual yang menyimpang atau mengurangi dorongan seksual

2. Terapi CBT (Cognitive behavioral Therapy)
membantu individu mencapai perilaku yang lebih adaptif


Disfungsi seksual

masalah yang terus-menerus ada sehubungan dengan minat, rangsangan atau respon seksual.
  • Tipe-tipe:
  1. gangguan hasrat seksual (kurangnya minat dan keengganan)
  2. gangguan rangsangan seksual (gangguan rangsangan pada wanita dan gangguan ereksi pada pria)
  3. gangguan orgasme (pada wanita dan pria)
  4. gangguan nyeri/sakit (dispreunia dan vaginismus)
  • Penyebab:
  1. Biologis (hormon)
  2. Psikodinamika (anak2 sampai dewasa)
  3. Psikososial (trauma,gak PD)
  4. Kognitif (takut gagal)
  5. Hubungan
  • Penanganan:
  1. Biomedis 
  2. CBT

Monday, January 7, 2013

Ada yang tau Gangguan Bipolar? :D


Gangguan Bipolar 

merupakan bentuk gangguan kejiwaan yang masuk kategori kronik dan serius. Namun, ada kabar baik bagi Anda, ternyata bentuk gangguan bipolar bisa dikendalikan.

Melalui serangkaian diagnosis yang akurat dan terapi yang optimal, gangguan bipolar bisa diatasi, termasuk memperkecil resiko bunuh diri. Perbaikan kualitas hidup pada penderita bipolar bisa dipenuhi melalui deteksi dini dan edukasi.
Sanak keluarga atau orang-orang terdekat dari penderita gangguan bipolar hendaknya turut memberikan dukungan kesabaran, optimis, ketekunan dan pantang menyerah saat menjalani terapi. Hal ini diungkapkan oleh Tuti Wahmurti, Perwakilan Majelis Kehormatan Profesi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).
“Strategi terapinya bisa disesuaikan kondisi pasien. Ada fase terapi akut, fase terapi berkelanjutan (continuation treatment phase) dan fase terapi pemeliharaan (maintenance treatment phase),” kata Tuti dalam seminar ‘Gangguan Bipolar: Dapatkah Dikendalikan?’ di Hotel JW Marriott Jakarta, Rabu (25/4).
Ia mengatakan, menunda diagnosis dan perawatan pada penderita gangguan bipolar malah mengakibatkan depresi yang berat bagi mereka. Bila kondisi semacam ini semakin memburuk, mereka cenderung tidak bisa dikendalikan.
“Gangguan bipolar perlu dikendalikan. Salah satunya adalah melalui pengobatan yang benar. Selain itu, perlu dipahami, penderita bipolar tidak untuk dihindari, melainkan mereka harus diberi kenyamanan dan kehangatan dari orang-orang di sekitarnya,” jelas Tuti.
Gangguan bipolar merupakan bentuk gangguan jiwa yang bersifat episodik atau berulang dalam jangka waktu tertentu. Gangguan ini biasa dimulai dari simtom-simtom perubahan mood (suana hati) dan bisa terjadi seumur hidup.
Terdapat lima episode bipolar yaitu, depresi, campuran, eutimia, manik, dan hipomanik. Lebih buruk lagi, penderita gangguan bipolar memiliki potensi lebih besar untuk melakukan bunuh diri dibandingkan penderita Skizofrenia.
Penyebab gangguan bipolar bersifat multifaktor atau memiliki banyak sebab. Beberapa faktor tersebut meliputi faktor biologi otak, genetik, dan pengalaman hidup yang dapat mengakibatkan stres.

gambar-gambar ilusi


yak, sekarang mimin mau bagi-bagi gambar ilusi. let's check it out :D



tebak ini posisi berdiri atau..? :D



hayo tebak, ada hewan apa aja disini? 



ini empat atau tiga? :s



is that possible? 



how can it be?




yang diatas yang mana? :o




sekian dulu deh gambar-gambar ilusi dari mimin, semoga bermanfaat :D

Psikiater ≠ Psikolog




Selama ini, banyak kita jumpai orang-orang yang menganggap psikiater itu sama dengan psikolog. Bahkan terkadang orang-orang awam menyebut/memanggil seorang psikolog itu dengan sebutan “dokter”. Padahal kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda walaupun juga memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama menangani manusia dengan masalah kejiwaan. Akan tetapi perlu kita ketahui lebih lanjut mengenai keduanya agar terdapat penjelasan yang tepat mengenai perbedaan keduanya.
Menurut latar belakang pendidikan, seorang psikiater menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu (sarjana kedokteran), pendidikan profesi sebagai dokter dan pendidikan spesialisasi  kedokteran jiwa. Sementara psikolog adalah sarjana psikologi yang telah mengikuti program akademik strata satu (sarjana psikologi) dan program profesi sebagai psikolog.
Selain itu, meskipun keduanya sama-sama mendalami ilmu jiwa, keduanya berbeda dalam hal pemberian terapi. Seorang psikiater bertanggungjawab dalam hal terapi obat (farmakoterapi) sedangkan psikolog lebih fokus pada terapi sosial (psikoterapi). Mengapa psikolog tidak boleh memberikan terapi obat? Jawabannya adalah karena psikolog tidak memiliki latar belakang kedokteran seperti layaknya psikiater. Psikiater yang berlatar belakang kedokteran lebih banyak berkecimpung pada penanganan secara klinis yang memeberikan mereka wewenang untuk penanganan dengan terapi obat.

Nah, setelah membaca penjelasan di atas, teman-teman sudah bisa membedakan keduanya bukan? Semoga bermanfaat!

Credits : http://health.detik.com/read/2010/06/21/111105/1382580/763/apa-beda-psikolog-dan-psikiater

Curhat admin :)



Baru-baru ini admin melaksanakan ujian mata kuliah Psikologi Dewasa. Tema yang dibahas adalah perkembangan individu dewasa madya. Menurut buku-buku yang telah admin baca, konteks utama masa dewasa madya adalah keluarga dan karier.  Kemudian admin mulai belajar tentang berbagai aspek perkembangan individu, mulai dari fisik dan seksual, kognitif, minat dan spiritualitas, moral, psikososial, kepribadian sampai pada aspek karier. Di dalam pembahasan aspek karier tersebut admin menemukan toeri pemilihan karier berdasarkan kepribadian yang dikemukakan oleh John L. Holland. Tetapi, ternyata belum ada penjelasan mengenai masing-masing jenis kepribadian yang dimaksud. Karena penasaran maka admin berusaha mencari tentang teori tersebut, dan alhasil inilah yang admin dapat. Semoga bermanfaat! 

 6 jenis kepribadian yang mempengaruhi perkembangan karier seseorang :
1.     Tipe Realistik
Tipe ini memiliki kecenderungan untuk memilih pekerjaan yang berorientasi kepada penerapan. Ciri-ciri tipe ini adalah mengutamakan kejantanan, kekuatan otot, keterampilan fisik, mempunyai kecakapan, dan koordinasi motorik yang kuat, kurang memiliki kecakapan verbal, konkrit, bekerja praktis, kurang memiliki keterampilan sosial, serta kurang peka dalam hubungan dengan orang lain.
Contoh pekerjaan untuk orang-orang tipe ini antara lain adalah operator mesin/radio, sopir truk, petani, penerbang, pengawas bangunan, ahli listrik, dan pekerjaan lain sejenis.

2.     Tipe Intelektual/Investigative
Orang dengan tipe ini cenderung memilih pekerjaan yang bersifat akademik. Ciri-cirinya adalal memiliki kecenderungan untuk merenungkan daripada mengatasinya dalam memecahkan suatu masalah, berorientasi pada tugas,  cenderung tidak sosial, membutuhkan pemahaman, menyenangi tugas-tugas yang bersifat kabur, memiliki nilai-nilai dan sikap yang tidak konvensional dan kegiatan-kegiatannya bersifat intraseptif.
Contoh pekerjaan yang dipilih oleh orang dengan tipe intelektual adalah ahli fisika, ahli biologi, ahli kimia, antropologi, matematika, peneliti/ilmuwan, dan pekerjaan lain sejenis.

3.     Tipe Sosial
Memiliki kecenderungan untuk memilih pekerjaan yang bersifat membantu orang lain merupakan salah satu ciri utama dari tipe ini. Ciri lainnya adalah pandai bergaul, berbicara, bersifat responsif, bertanggung jawab, kemanusiaan, bersifat religius, membutuhkan perhatian, memiliki kecakapan verbal, hubungan antarpribadi, kegiatan-kegiatan teratur, lebih berorientasi pada perasaan.
Contoh pekerjaan yang digeluti tipe sosial ini antara lain adalah guru, pekerja sosial, konselor, misionaris, psikolog klinis, terapis, dan pekerjaan lain sejenis.

4.     Tipe Konvensional
Pada umumnya orang-orang tipe ini cenderung menyukai kegiatan verbal, mereka menyenangi bahasa yang tersusun baik, numerik yang teratur, senang mengabdi, mengidentifikasikan diri dengan kekuasaan, memberi nilai tinggi terhadap status dan kenyataan materi.
Contoh pekerjaan tipe ini adalah kasir, ahli statistik, pemegang buku, pegawai arsip, pegawai bank, dan pekerjaan lain sejenis.

5.     Tipe Usaha/Enterprising
Tipe usaha pada umumnya menggunakan keterampilan berbicara untuk menguasai orang lain atau mempengaruhi orang lain, menganggap dirinya paling kuat, jantan, mudah beradaptasi dengan orang lain, perhatian yang besar pada kekuasaan, status dan kepemimpinan, serta agresif dalam kegiatan lisan.
Contoh biang yang ditekuni oleh tipe ini adalah pedagang, politikus, manajer pimpinan eksekutif perusahaan, perwakilan dagang, dan pekerjaan lain yang sejenis.

6.     Tipe Artistik
Orang yang mempunyai tipe kerpribadian ini cenderung berhubungan dengan orang lain secara tidak langsung, bersifat sosial, dan sukar menyesuaikan diri. ciri dari tipe ini antara lain menyukai masalah yang memerlukan interpretasi atau kreasi bentuk-bentuk artistik melalui cita rasa, perasaan dan imajinasi. Dengan kata lain, orang tipe ini fokus pada hal menghadapi keadaan sekitar dengan cara mengekspresikan diri dan menghindari keadaan yang bersifat intrapersonal, keteraturan, atau keadaan yang menuntut keterampilan fisik.
Contoh pekerjaan orang-orang tipe ini adalah ahli musik, ahli kartun, pencipta lagu, penyair, danoekerjaan lain sejenis.

Yang mana tipe-mu? :)
Credits :